Kamis, 03 Desember 2015

Kisah satu

Kenapa Harus Kamu? Kenapa Harus Beda?
Ketika cinta mampu menyatukan dua insan berbeda usia, suku, derajat, kasta bahkan hal yang paling sensitif nan sakral bagi umat manusia yaitu, Agama.

“Bukan kita yang ingin dilahirkan berbeda. Jantung kita tak pernah berhenti berdetak berirama mana kala mata kita saling bertemu. Saling terbuai lalu jatuh ke dalam jurang seribu dilema. Terperangkap diantara dinding kokoh yang tak bisa untuk dilampaui. Aku tak banyak meminta pada Tuhanku dan Tuhanmu. Aku hanya meminta satu hal, aku ingin menikmati mati bersamamu.”


Akankah cinta mampu menembus dinding perbedaan itu? Akankah sucinya cinta bisa meluluhkan batas-batas suku agama yang masing-masing berjuang mempertahankan keyakinannya? Dapatkah kita, yang telah dipersatukan oleh cinta, bersatu dalam Tuhan?
Saat cinta menghampiri dan merasuk ke dalam jiwa dua insan manusia, itu adalah anugrah. Namun ada juga yang bilang jika cinta beda agama adalah sebuah malapetaka. Apakah cinta yang kita jalani adalah sebuah petaka? Bukankah Tuhan yang mempertemukan kita berdua? Lalu mengapa agama bisa memisahkan? Berulang kali kalimat-kalimat itu menggerayangi pikiranku. Aku selalu bertanya-tanya tentang hubungan yang tengah aku jalani. Akankah kita selamanya? Akankah dia yang menjadi tempat persinggahan terakhirku?
Ini sudah tahun ke-4 aku melewati hari-hari bersama pria yang telah memiliki hatiku. Hubungan yang kami jalani tidaklah mudah. Sudah terlalu banyak rintangan dan halangan yang telah kami lalui. Awalnya masalah agama tidaklah menjadi masalah yang besar bagi kami. Semuanya terlewati begitu indah , namun lambat laun seiring bertambahnya usia hubungan kami masalah mulai merangkak masuk perlahan. Mau sampai kapan kita seperti ini? Mau dibawa kemana hubungan kita? Sudah seribu kali aku rasa pertanyaan itu hadir kudengar.
Cinta itu dimulai saat aku masih duduk di kelas 9 di salah satu sekolah menengah di Pontianak. Perjalanannya tidaklah seindah apa yang orang-orang lihat. Begitu banyak konflik yang terjadi dan itu seperti makanan sehari-hari bagi kami. Putus nyambung dan orang ketiga bukan hal yang luar biasa lagi. Itu sudah jadi hal lumrah. Kami sudah tak kaget lagi pada hal demikian. Bahkan hubungan tanpa statuspun pernah kita rasakan.
Saat ini kami tengah menjalani hubungan jarak jauh. Dia sedang menimba ilmu di salah satu Institut Negeri di Bogor. Sedangkan aku melanjutkan pendidikan tinggi di Pontianak. Segalanya masih berjalan normal dan lancar. Kami saling member kabar meskipun tidak intens karena kesibukan masing-masing dari kami dengan tugas dan kegiatan kampus.
Kekhawatiran dan kecemasan acapkali mendera diriku. Karena aku tidak sepenuhnya tahu tentang apa yang dia lakukan lalu dengan siapa. Setiap waktu aku selalu merasakan ketakutan. Aku takut apabila suatu hari dia bertemu dengan gadis lain yang seiman dengannya. Lalu dia jatuh cinta kepadanya dan pergi meninggalkanku. Apalagi sekarang sudah ada tambahan pembatas antara kami yaitu jarak. Belum lagi waktu untuk bertemu amatlah terbatas. Untuk mengobrol lewat telepon saja kami harus saling merencanakan waktunya.
Tetapi kami tak pernah mempersoalkan hal itu. Orang-orang selalu bertanya mengapa aku bisa betah dengan kondisi ini. Berbeda tempat tinggal serta berbeda tempat ibadah. Kenapa tidak kau cari saja laki-laki lain yang seiman dan masih satu kota denganmu. Itu yang selalu kudengar dari mereka.
Setiap orang memilki hati yang berbeda meskipun letaknya sama. Aku tidak bisa memulai jatuh lagi, mulai percaya kepada laki-laki lain dan memberikan seluruh perasaanku padanya. Rasanya pasti tak akan sama. Mungkin jantungku tak akan berdegup begitu kencang saat mataku dan matanya saling beradu.
Aku mencoba bertahan karena aku tak ingin kehilangan semua hal yang telah kami rajut bersama. Aku selalu mencari sahabatku untuk berbagi dan meluapkan semua keluh kesahku padanya. Harus kemana lagi aku berbagi cerita tentang hidupku. Tidak mungkin aku menghampiri keluargaku lalu bercerita tentang hubunganku dengan Dia. Aku berasal dari keluarga muslim yang kuat dan keluargaku sangat menentang hubungan cinta beda agama. Sedangkan dia berasal dari keluarga hindu yang taat dan sangat menjungjung tradisi leluhur mereka bahwa anak pertama dari keluarga hindu harus jadi penerus leluhur.
Pertama kali aku bercerita kepada sahabatku, saat kami baru memulai hubungan, aku masih bisa berbagi dengan senyum sumringah penuh kebahagiaan. Bisa dibilang dulu itu kisah cinta anak remaja yang baru mengenal kata pacaran. Namun ternyata aku terjebak didalamnya dan tak bisa lari dari kenyataan untuk pergi mencari kebahagiaan yang lain.
Aku masih bisa berbagi tetapi akan ada unsur lain yang ikut didalam ceritaku. Bukan partikel tawa lagi melainkan larutan bening yang terus saja keluar dari mataku mengiringi cerita pedihku. Entah kenapa bisa seperti ini? Apa Tuhan sedang mengujiku? Apakah Tuhan memang sengaja mempertemukan kami hanya untuk dipisahkan? Atau dia punya rencana lain? Ah cinta itu memang rumit. Dia bisa menyatukan hitam putih kehidupan menjadi warna-warni begitupun sebaliknya.
Segalanya terasa manis, walaupun disisi lain terasa pahit. Tidak ada yang tahu bagaimana skenario Yang Kuasa. Kami hanya terus mencoba bersama meskipun rasanya ada yang mengganjal. Saat pasangan yang lain bisa pergi bertarawih bersama dan yang lainnya lagi dapat bergandengan memasuki gereja. Menikmati ibadah yang sama-sama menyembah satu Tuhan yang mereka imani.
Lain halnya dengan kami, Dia harus menungguku dari kejauhan ketika aku sedang menjalankan ibadah sholat magrib. Dan aku tak pernah bisa menemaninya pergi ke pura untuk beribadah.  Kami tak pernah bisa saling bercerita suri tauladan Nabi Muhammad atau mengenang kembali kisah para Mahabharata melakukan perang saudara. Bagaimana mungkin genggaman tasbih ditangan dengan bunga di ketiga ujung jari dapat bersatu. Sedangkan diantara kami tetap egois untuk memenangkan keyakinan masing-masing.
Tetapi dibalik itu semua mereka saling mendoakan. Diam-diam kedua insan itu selalu bersujud dan bermeditasi meminta yang terbaik untuk hubungan mereka. Entah sampai kapan hubungan ini akan terus berjalan. Apakah akan berlabuh di pelaminan? Entahlah, kami hanya menjalani dan masih belum berpikir akan seperti apa nanti.
Aku hanya meminta satu hal kepada Tuhanku ataupun kepada Tuhanmu. Aku hanya ingin menikmati mati bersamamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar