Kenapa Harus Kamu? Kenapa Harus Beda?
Ketika cinta mampu menyatukan dua
insan berbeda usia, suku, derajat, kasta bahkan hal yang paling sensitif nan
sakral bagi umat manusia yaitu, Agama.
“Bukan kita yang ingin dilahirkan berbeda. Jantung kita tak pernah berhenti berdetak berirama mana kala mata kita saling bertemu. Saling terbuai lalu jatuh ke dalam jurang seribu dilema. Terperangkap diantara dinding kokoh yang tak bisa untuk dilampaui. Aku tak banyak meminta pada Tuhanku dan Tuhanmu. Aku hanya meminta satu hal, aku ingin menikmati mati bersamamu.”
Akankah cinta mampu menembus
dinding perbedaan itu? Akankah sucinya cinta bisa meluluhkan batas-batas suku
agama yang masing-masing berjuang mempertahankan keyakinannya? Dapatkah kita,
yang telah dipersatukan oleh cinta, bersatu dalam Tuhan?
Saat cinta menghampiri dan
merasuk ke dalam jiwa dua insan manusia, itu adalah anugrah. Namun ada juga
yang bilang jika cinta beda agama adalah sebuah malapetaka. Apakah cinta yang
kita jalani adalah sebuah petaka? Bukankah Tuhan yang mempertemukan kita
berdua? Lalu mengapa agama bisa memisahkan? Berulang kali kalimat-kalimat itu
menggerayangi pikiranku. Aku selalu bertanya-tanya tentang hubungan yang tengah
aku jalani. Akankah kita selamanya? Akankah dia yang menjadi tempat persinggahan
terakhirku?
Ini sudah tahun ke-4 aku melewati
hari-hari bersama pria yang telah memiliki hatiku. Hubungan yang kami jalani
tidaklah mudah. Sudah terlalu banyak rintangan dan halangan yang telah kami
lalui. Awalnya masalah agama tidaklah menjadi masalah yang besar bagi kami.
Semuanya terlewati begitu indah , namun lambat laun seiring bertambahnya usia
hubungan kami masalah mulai merangkak masuk perlahan. Mau sampai kapan kita
seperti ini? Mau dibawa kemana hubungan kita? Sudah seribu kali aku rasa
pertanyaan itu hadir kudengar.
Cinta itu dimulai saat aku masih
duduk di kelas 9 di salah satu sekolah menengah di Pontianak. Perjalanannya
tidaklah seindah apa yang orang-orang lihat. Begitu banyak konflik yang terjadi
dan itu seperti makanan sehari-hari bagi kami. Putus nyambung dan orang ketiga
bukan hal yang luar biasa lagi. Itu sudah jadi hal lumrah. Kami sudah tak kaget
lagi pada hal demikian. Bahkan hubungan tanpa statuspun pernah kita rasakan.
Saat ini kami tengah menjalani
hubungan jarak jauh. Dia sedang menimba ilmu di salah satu Institut Negeri di
Bogor. Sedangkan aku melanjutkan pendidikan tinggi di Pontianak. Segalanya
masih berjalan normal dan lancar. Kami saling member kabar meskipun tidak
intens karena kesibukan masing-masing dari kami dengan tugas dan kegiatan
kampus.
Kekhawatiran dan kecemasan
acapkali mendera diriku. Karena aku tidak sepenuhnya tahu tentang apa yang dia
lakukan lalu dengan siapa. Setiap waktu aku selalu merasakan ketakutan. Aku
takut apabila suatu hari dia bertemu dengan gadis lain yang seiman dengannya.
Lalu dia jatuh cinta kepadanya dan pergi meninggalkanku. Apalagi sekarang sudah
ada tambahan pembatas antara kami yaitu jarak. Belum lagi waktu untuk bertemu
amatlah terbatas. Untuk mengobrol lewat telepon saja kami harus saling
merencanakan waktunya.
Tetapi kami tak pernah
mempersoalkan hal itu. Orang-orang selalu bertanya mengapa aku bisa betah
dengan kondisi ini. Berbeda tempat tinggal serta berbeda tempat ibadah. Kenapa
tidak kau cari saja laki-laki lain yang seiman dan masih satu kota denganmu. Itu
yang selalu kudengar dari mereka.
Setiap orang memilki hati yang
berbeda meskipun letaknya sama. Aku tidak bisa memulai jatuh lagi, mulai
percaya kepada laki-laki lain dan memberikan seluruh perasaanku padanya.
Rasanya pasti tak akan sama. Mungkin jantungku tak akan berdegup begitu kencang
saat mataku dan matanya saling beradu.
Aku mencoba bertahan karena aku
tak ingin kehilangan semua hal yang telah kami rajut bersama. Aku selalu
mencari sahabatku untuk berbagi dan meluapkan semua keluh kesahku padanya.
Harus kemana lagi aku berbagi cerita tentang hidupku. Tidak mungkin aku
menghampiri keluargaku lalu bercerita tentang hubunganku dengan Dia. Aku
berasal dari keluarga muslim yang kuat dan keluargaku sangat menentang hubungan
cinta beda agama. Sedangkan dia berasal dari keluarga hindu yang taat dan
sangat menjungjung tradisi leluhur mereka bahwa anak pertama dari keluarga
hindu harus jadi penerus leluhur.
Pertama kali aku bercerita kepada
sahabatku, saat kami baru memulai hubungan, aku masih bisa berbagi dengan
senyum sumringah penuh kebahagiaan. Bisa dibilang dulu itu kisah cinta anak
remaja yang baru mengenal kata pacaran. Namun ternyata aku terjebak didalamnya
dan tak bisa lari dari kenyataan untuk pergi mencari kebahagiaan yang lain.
Aku masih bisa berbagi tetapi
akan ada unsur lain yang ikut didalam ceritaku. Bukan partikel tawa lagi
melainkan larutan bening yang terus saja keluar dari mataku mengiringi cerita
pedihku. Entah kenapa bisa seperti ini? Apa Tuhan sedang mengujiku? Apakah
Tuhan memang sengaja mempertemukan kami hanya untuk dipisahkan? Atau dia punya
rencana lain? Ah cinta itu memang rumit. Dia bisa menyatukan hitam putih
kehidupan menjadi warna-warni begitupun sebaliknya.
Segalanya terasa manis, walaupun
disisi lain terasa pahit. Tidak ada yang tahu bagaimana skenario Yang Kuasa.
Kami hanya terus mencoba bersama meskipun rasanya ada yang mengganjal. Saat
pasangan yang lain bisa pergi bertarawih bersama dan yang lainnya lagi dapat
bergandengan memasuki gereja. Menikmati ibadah yang sama-sama menyembah satu
Tuhan yang mereka imani.
Lain halnya dengan kami, Dia
harus menungguku dari kejauhan ketika aku sedang menjalankan ibadah sholat
magrib. Dan aku tak pernah bisa menemaninya pergi ke pura untuk beribadah. Kami tak pernah bisa saling bercerita suri
tauladan Nabi Muhammad atau mengenang kembali kisah para Mahabharata melakukan
perang saudara. Bagaimana mungkin genggaman tasbih ditangan dengan bunga di
ketiga ujung jari dapat bersatu. Sedangkan diantara kami tetap egois untuk
memenangkan keyakinan masing-masing.
Tetapi dibalik itu semua mereka
saling mendoakan. Diam-diam kedua insan itu selalu bersujud dan bermeditasi
meminta yang terbaik untuk hubungan mereka. Entah sampai kapan hubungan ini
akan terus berjalan. Apakah akan berlabuh di pelaminan? Entahlah, kami hanya
menjalani dan masih belum berpikir akan seperti apa nanti.
Aku hanya meminta satu hal kepada
Tuhanku ataupun kepada Tuhanmu. Aku hanya ingin menikmati mati bersamamu.